Sabtu, 07 Maret 2020

Melawan ketakuanku 2

Hari ini aku menyerah lagi, setelah aku kembali mencoba menyelami air yang sekian lama tak ku lakukan akhirnya aku kembali menyerah, hari ini aku hampir saja mati tenggelam dan dengan perasaan kesal aku pulang kerumah lalu kurebahkan badanku.
Suara dering telepon membangunkanku dari tidur, langit sudah gelap dan lampu kamarku masih padam, ku coba menyalakan lampu dan kuambil handphone ku, Clyde menelpon ku dia adalah sahabatku yang selalu memberiku semangat saat aku mulai lelah,
“ Kee, apa kamu baik baik saja?” Tanyanya karena mendengar suaraku yang sangat pelan
“ I'm ok, aku baru bangun “
“ hey jam berapa sekarang ? Apa kamu jadi berenang hari ini, bagaimana? Apa kamu sudah melakukannya dengan baik? “
Aku melihat sudah jam di handphone ku 23:05, aku sudah tidur terlalu lama dari jam 1 siang tadi, aku mungkin kelelahan, aku masih kesal ketika aku mengingat kejadian siang tadi saat aku hampir saja tenggelam lalu akupun menceritakan hal ini kepada sahabatku itu,
Diapun terdiam sejenak lalu berkata
“ kamu harus mencobanya lagi besok, jika gagal kamu harus terus mencobanya lagi agar kamu menemukan sesuatu yang membuatmu nyaman dengan ketakutanmu, seperti saat aku menemukan headset saat aku takut dengan kerumunan banyak orang”
“Clyde bagaimana jika besok kamu menemaniku berenang?”
Bersambung....


#30DWC #30DWCJilid22 #Day21

Melawan Ketakutanku 1

Menjelajahi dunia laut dan hidup diantara makhluk air adalah mimpi kecilku, hatiku begitu bersemangat ketika melihat warna warni terumbu karang dan hewan hewan laut, aku selalu membayangkan seandainya ada kesempatan untukku menjelajahinya walau sebentar, sayangnya aku tidak bisa berenang jauh karena fobiaku akan kedalaman dan kegelapan dan setiap kali aku mencoba berenang dan melihat keadaan bawah air maka nafasku serasa habis dan sesak, mulai saat itulah aku mencoba mengubur mimpiku dalam dalam.
Beberapa hari lalu seorang teman mengusulkan untuk untuk pergi berlibur kesebuah pulau dan snorkeling disana, aku ingin sekali ikut namun aku takut jika nanti aku tak mampu menikmati keindahan laut karena ketakutanku yang tiba tiba muncul, aku berfikir sejenak sampai kapan aku harus seperti ini ?
Dua hari lalu aku mencoba kembali berenang, siang itu begitu cerah jam sudah menunjukan pukul 11 siang, aku berfikir saat siang hari kolam tak akan terlihat gelap dan itu adalah saat yang tepat untukku kembali ke dunia air.
Aku mendatangi kolam renang di sebuah hotel di kotaku aku biasa berenang disini, selain bersih juga tempatnya terang karena kolamnya berada di luar tanpa atap, hari itu hari kerja dimana kolam sangat sepi biasanya hanya ada aku dan penjaga kolam.
Dan benar saja semua sudah sesuai harapan kondisi cuaca sangat cerah dan panas, dan kolam sangat sepi, akupun mulai memasuki kolam dan berenang dimulai dari kedalaman 1,6 meter semua berjalan lancar, lalu lebih dalam lagi di kedalaman 1,7 meter semua masih baik baik saja aku sangat senang lalu akupun mencoba menyelam dan memasuki kolam di kedalaman 2 meter, 5 detik pertama aku baik baik saja, namun  tiba tiba nafasku seperti berhenti, aku mencoba naik namun sepertinya sesuatu menariku, kakiku menjadi kaku dan tak mampu ku gerakan, aku mulai takut apakah aku akan mati sekarang? Aku hanya berfikir jangan panik namun tubuhku tak sejalan dengan pikiranku ,aku mencoba berteriak dan memanggil penjaga kolam yang sedang sibuk membersihkan kolam khusus untuk anak anak, namun sepertinya dia tidak mendengarku, tanganku berusaha meraih dinding kolam yang berjarak kurang lebih 80 cm dari tempatku berada sekarang, sementara pikiranku terus menerus berteriak jangan panik kamu pasti bisa, beberapa saat berlalu tanganku mulai merasakan adanya dinding kolam, akupun meraihnya dan aku selamat.
Aku terbatuk batuk dan mencoba hirup nafas dalam dalam, jantungku masih berdetak tak menentu aku bersandar di pinggiran kolam belum mampu naik ke daratan dan sang penjaga kolam mendatangiku dengan terburu buru lalu bertanya “ mbak baik baik saja? Saya bisa bantu naik ” akupun menjawab “ terimakasih pak saya baik baik saja” sementara nafasku masih terputus putus “sepertinya mbak berusaha sangat keras, semangat terus mbak “ katanya menyemangatiku, akupun tersenyum “ terimakasih pak “
Setelah beberapa saat berlalu, nafasku mulai tenang, kekuatanku sudah kembali dan akupun naik ke daratan dan merebahkanku ke kursi yang ada di pinggiran kolam “ aku lelah “

#30DWC #30DWCJilid22 #Day20

Kamis, 05 Maret 2020

Malam Itu

Malam ini Nia pulang terlambat ,harusnya jam 7 malam dia sudah pulang tapi sampai sekarang jam 9 malam dia belum juga pulang.
 Nia bekerja sebagai teknisi di Perusahaan Elektronik di kotanya,
 Sejak pagi tadi mesin mesin baru berdatangan, Nia dan rekan-rekannya sibuk mempelajari mesin baru itu,
Sebenarnya sejak  jam 8.30 tadi pekerjaan mereka sudah selesai semua rekan Nia sudah pulang, tapi Sesampainya di parkiran motor 20 menit yang lalu kunci motor dia tertinggal di dalam ruang kerja dan akhirnya dia pun balik kembali lagi menuju ruang kerjanya untuk mencari kunci motor yang tertinggal, tapi sudah 20 menit mencari kuncinya belum ketemu juga, dibongkarnya semua barang-barangnya belum juga ketemu, Nia mulai lelah mencari kunci motor nya itu. Dia mulai berpikir apa kunci motor yang terbawa oleh teman-temannya dia pun mengambil handphone dan memutuskan untuk menelpon salah seorang temannya, Nia  memutuskan untuk menelpon Dian tapi Dian tidak mengangkat Mungkin dia masih di jalan, Andi dia juga tidak mengangkatnya apalagi Reno, Reno orang yang paling susah mau angkat telepon.
Dia mulai menyerah dan akhirnya dia memutuskan untuk naik bus umum,  ia pun berjalan dengan malas menuju halte dan menunggu bus terakhir yang akan lewat jam 10 malam kurang lebih 10 menit lagi mungkin akan datang malam ini begitu dingin, Nia sendirian di halte  perasaannya mulai tidak enak dia merasa seperti ada seseorang yang sedang mengintai nya dari jauh dia mencoba untuk tidak peduli tapi perasaan Nia benar benar tidak enak sepertinya itu orang jahat atau hantu.
Setelah beberapa menit menunggu, bus pun datang, Nia buru buru masuk bus, malam ini bus begitu ramai, Nia duduk di bangku paling belakang , perasaannya mulai tenang dan sejenak melupakan kejadian saat menunggu bus tadi, malam ini Nia begitu kelelahan butuh waktu 1 jam untuk sampai di rumah, Nia memutuskan untuk sejenak memejamkan mata, Nia pun terbangun setelah sekian lama di dalam bus , ada perasaan yang tak beres dengan perjalanan malam ini, bus terasa begitu sangat lambat dan diapun penasaran apa yang terjadi, dilihatnya arah luar jalanan begitu lenggang dan tiba tiba bus pun berhenti lalu semua penumpang di dalam bus menatap kearahnya, mereka semua berubah menjadi zombie bertaring dan bermata merah yang siap menyerangnya, spontan Nia pun teriak ketakutan.
Nia terbangun dari tidurnya, cahaya matahari sudah sangat terang masuk lewat celah jendela, huh ternyata cuma mimpi.


#30DWC #30DWCJilid22 #Day19

Perjalanan Pertama ke Kota Kelahiran part 2


Kota Jakarta malam ini begitu ramai, taksi yang ku tumpangi berjalan sedikit lambat, mungkin perjalananku akan  sedikit lebih lama Karena kondisi jalan yang padat, keretaku akan berangkat jam 23:25 ,aku memilih jadwal terakhir selain agar sampai di rumah saat subuh juga mencegah agar tidak ketinggalan kereta, dan sekarang masih jam 21:00.
Kota Jakarta dimalam ini begitu cantik dan ramai, lampu lampu jalan yang terang dan gedung gedung tinggi di malam hari, malam ini aku benar benar bersemangat tak sedikitpun aku merasa lelah, padahal pagi tadi aku baru saja sampai rumah setelah semalaman bekerja, hanya 2 jam tidur sebelum aku melakukan perjalanan ini.
Setelah hampir 2 jam akhirnya sampailah aku di stasiun pasar senen, turun dari taksi aku langsung menuju tempat penukaran tiket butuh waktu setengah jam untuk mencari tempat penukaran tiket, seharusnya tidak selama ini jika aku sudah tau tempatnya, dan setelah Tanya sana ini akhirnya akupun menemukannya, hah sepertinya konsentrasiku mulai sedikit berkurang, setelah menukarkan tiket akupun mulai mencari tempat untuk duduk sambil menunggu jadwal keberangkatan,
 Aku memutuskan duduk lesehan di atas lantai stasiun seperti para calon penumpang lain disini, malam ini stasiun sangat padat dan aku tidak menemukan satupun kursi yang kosong.
Menunggu  jadwal keberangkatanku yang masih kurang lebih 1 setengah jam lagi tak banyak yang kulakukan , hanya mendengarkan music dari headset dan melihat lihat keadaan sekitar, ini benar benar perjalanan pertamaku, sudah seminggu ini ku pelajari bagaimana prosedur yang harus aku lakukan saat perjalanan ini agar aku selamat sampai tujuan tanpa bingung, tapi tetap saja ada sedikit rasa takut , ditambah lagi Ibuku yang terus menerus nelpon setelah kemarin aku mengabarinya bahwa aku akan melakukan perjalanan ke pulau Jawa seorang diri.
Setelah menunggu beberapa lama keretapun datang, lalu setelah menemukan tempat dudukku di dalam kereta akupun duduk santai dengan tenang, kantuk mulai datang namun aku tidak boleh terlelap, jika sampai terlelap aku bisa terlewat dan siapa yang akan membangunkanku? Sejujurnya ketiduran diatasa kendaraan umum adalah penyakitku sejak lama, hampir tiap bulan aku tertidur di dalam bus dan terlewat dari halte pemberhentianku saat pulang kerja dan untuk ini aku tidak boleh terlewat , tapi akhirnya aku pun tertidur juga.
Dering telpon membangunkanmu, Mama menelpon lagi sudah 30 panggilan tak terjawab ternyata dan oh dengan perasaan kaget aku baru tersadar aku tertidur dan sekarang aku masih didalam kereta,
“ maaf Pak ini sudah sampai mana ya? “ tanyaku buru buru dengan penumpang lain yang ada di sampingku
“ sebentar lagi Pemalang dek “
Ow tepat waktu aku sedikit tersenyum dan menatap handponeku thanks Mama kataku dalam hati, sudah 31 panggilan tak terjawab namun aku belum menjawab panggilannya, karena kereta keburu berhenti dan sampailah aku di stasiun Pemalang, turun dari kereta akupun duduk sebentar di kursi yang ada di sepanjang stasiun dan menelpon mama sebentar untuk mengabari bahwa aku sudah sampai dengan selamat, aku juga tidak ingin di cap sebagai anaka durhaka karena membuatnya khawatir sepanjang malam, aku sampai di Pemalang tepat saat adzan Subuh sesuai jadwal.
Setelah berpikir sejenak akupun memutuskan untuk pulang dengan menggunakan becak, aku benar benar rindu menggunakan kendaraan tradisional yang satu ini.
Merasakan sejuknya udara pagi membuatku semakin bersemangat, aku sangat tidak sabar hingga tanpa sadar aku senyum senyum sepanjang jalan , untung saja jalanan masih sangat sepi jadi tak ada oang yang melihat tampangku yang aneh Karen a senyum senyum sendiri ini,
Setelah kurang lebih 30 menit sampailah aku di depan rumah
“Assalamualaikum “ kataku sambil mengetok pintu
“ Anakku sayang, masih ingat juga jalan pulang “ kata Tanteku yang langsung memelukku dengan tersenyum
Aku hanya tersenyum karena senang nya, lalu tiba tiba tente melepas pelukanya dan melihat lihat kearah belakangku
“ kenapa sendirian? Mana pasangannya ? “ tanyanya dengan raut datar
Huh bukannya tanya kabarku apa gimana perjalannya ini malah tanya yang belum ada, aku pun masuk ke dalam rumah dengan muka datar sambil menyeret koper kecilku, tante hanya tertawa jahil sambil teriak memanggil om dan para anggota keluarga lain.

#30DWC #30DWCJilid22 #Day18


Selasa, 03 Maret 2020

Perjalanan Pertama ke Kota Kelahiran


Pernahkan kau membayangkan bagaimana rasanya kembali berjumpa dengan kota kelahiran setelah 7 tahun berpisah, hanya ada satu kata “ Rindu “
Sore itu langit begitu cerah hanya ada beberapa awan putih yang melayang di langit biru, di tengah hiruk pikuk keramaian bandara Hang Nadim Batam aku duduk seorang diri di ruang tunggu bandara, Kulihat jam menunjukan pukul 17:15 setengah jam lagi pesawatku datang , hati ku benar benar tak sabar ingin cepat cepat sampai di kota kelahiran dan menemui keluarga besarku setelah 7 tahun berpisah, hal pertama yang paling aku rindukan adalah wajah om dan tanteku  orang yang 3 tahun merawatku selama aku sekolah disana, dan satu lagi makanan dan jajanan pasar karena aku sangat suka makan , aku juga penasaran bagaimana perubahan kota tersayangku itu.
setelah beberapa menit berlalu akhirnya pesawat datang dan perjalanan dimulai, 2 jam kemudian sampailah aku di Bandara Soekarno Hatta Jakarta, ini adalah kali pertama aku menginjakan bandara ini benar benar luas dan aku sedikit kebingungan, namun belajar dari pengalaman di perjalanan sebelumnya aku sudah mulai terbiasa, aku sudah menghafal wajah orang orang yang satu pesawat denganku minimal samping kanan kiri depan belakang dan aku tinggal mengikuti mereka saat sampai di bandara tujuan, selesai jadi nggak takut jika harus kesasar di tempat baru, dan sampailah aku ke tempat pengambilan bagasi , stelah mengambil bagasi aku pun keluar bandara dan mencari taxi, setelah menemukannya berangkatlah aku ke lokasi selanjutnya Terminal Pasar Senen untuk menaiki kereta menuju Kota Pemalang
Bersambung
#30DWC #30DWCJilid22 #Day17